Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI)

Majulah IGOS, Indonesia, Go Open Source!

Posts Tagged ‘open Source sebagai pilihan’

Tender Internet Pedesaan: Keunggulan Open Source Software

Posted by sroestam pada November 2, 2009

JAKARTA: Enam dari 25 penyelenggara jasa Internet (PJI) dinyatakan tidak lolos prakualifikasi proyek Internet perdesaan Desa Pinter.

“Mereka tidak lulus seleksi dokumen,” ujar Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi Depkominfo, kepada Bisnis kemarin.

Keenam perusahaan itu adalah PT Cyber Network Indonesia (Mitra), PT Inet Global Indo, PT Nettocyber Indonesia, PT Sejahtera Globalindo, PT Total Info Kharisma, dan PT Core Mediatech.

Gatoto menambahkan ada tiga perusahaan yang dikurangi jumlah paket incarannya karena tidak lulus di paket wilayah tertentu.

“Seperti PT Indointernet yang semula berencana menawar di semua paket berkurang menjadi enam paket saja,” katanya.

Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) melalui Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan (BTIP) Ditjen Postel membagi pengerjaan proyek Desa Pinter dari dana Universal Service Obligation (USO) menjadi 11 paket pekerjaan.

Ada tiga paket favorit peserta, yaitu paket 4 Jawa Barat dan Banten dengan pagu anggaran tahun pertama Rp41,5 miliar, paket 5 Jawa Tengan dan Yogyakarta dengan pagu senilai Rp35,6 miliar, serta paket 7 Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur dengan pagu senilai Rp27,9 miliar.

Sebanyak enam perusahaan dinyatakan tidak lulus mengikuti paket 4, sementara empat perusahaan tidak lulus prakualifikasi di paket 5 dan paket 7.

PT Telkomsel dan PT Indonesia Comnet Plus, yang mendaftarkan diri juga sebagai calon peserta, diketahui telah memenangi hak kontrak sebagai penyedia program USO untuk akses telekomunikasi bagi 31.824 desa atau disebut Desa Berdering. Kedua perusahaan tersebut dinyatakan lulus prakualifikasi di seluruh paket.

Penggunaan Software Sumber Terbuka (Open Source)

Terkait dengan spesifikasi terminal komputer pada proyek Desa Pinter, Depkominfo tidak mewajibkan para pemenang tender untuk menggunakan peranti komputer dengan kandungan konten lokal dan berbasis sistem operasi open source.

Gatot menjelaskan dalam aturan mengenai tender menggunakan dana universal service obligation (USO) yang ditetapkan tidak ada kewajiban tersebut, pengadaan perangkat operasional bergantung pada pemenang tender di setiap paket.

“Kami mewajibkan pemenang menyediakan komputer lengkap minimal satu unit di setiap desa ibu kota kecamatan, tetapi dari siapa vendor dan bagaimana sistem pengadaannya diserahkan kepada pemenang tender,” ujarnya.

Dia menjelaskan besar kemungkinan merek komputer maupun peranti lunak yang ada di dalamnya setiap paket berbeda. Selain itu, para pemenang juga bisa mengadakan peralatan tersebut menggunakan sistem tender atau penunjukan langsung.

Hal ini sedikit bertentangan dengan pernyataan Menkominfo Tifatul Sembiring dalam acara Global Conference Open Source (GCOS) di Jakarta pekan lalu yang berjanji mendorong penggunaan open source di masyarakat. (fita.indah@bisnis.co.id)

Namun dari hasil pembicaraan kami dengan Bapak Santoso Serad, Kepala BTIP Ditjen POSTEL, dijelaskan oleh beliau bahwa untuk pengadaan haedware Komputer diperlukan jaminan dari fabrikan/vendor serta jaminan pemeliharaan selama 4-tahun, sedangkan untuk pengadaan Perangkat Lunak, maka diperlukan Perangkat Lunak yang LEGAL dan support dari Distributor Software serta jaminan pemeliharaan selama 4-tahun.

Menurut pemahaman kami, maka tiap Peserta Tender diperbolehkan untuk menggunakan Perangkat Lunak Sumber Terbuka (Open Source) sebab perangkat lunak jenis ini sudah dikenal sebagai Perangkat Lunak LEGAL berlisensi GPL (General Public License). Distributor atau Distro Perangkat Lunak Sumber Terbuka sudah banyak terdapat di Indonesia yang dibuat oleh anak-anak Bangsa, seperti IGOS Nusantara yang berbasis Distro Fedora dan dikemas kembali oleh Tim Kemetrian Negara  RISTEK, Distro turunan dari Ubuntu yang dikemas oleh para ahli software Indonesia dengan merek Blankon dan Ki Hajar, Distro turunan dari Mandriva dengan merek PC Linux OS dan PC Linux OS-3D (tampilan Desktop 3 Dimensi) yang berbahasa Indonesia dan dijamin BEBAS VIRUS!

Kesimpulannya, para Peserta Tender Internet Pedesaan Desa Pinter akan mendapatkan keunggulan kompetitif bilamana mereka memakai Distro Open Source buatan anak-anak Bangsa tersebut diatas karena mendapat support penuh dan dukungan pemeliharaan yang tak terbatas waktunya, sebab mereka semuanya berdomisil di Indonesia. Keuntungan lainnya adalah terbebas dari gangguan Virus yang biasa menyebar di Sistem Operasi Microsoft Windows, berbahasa Indonesia, tampilan Desktop yang bisa 3 Dimensi (bila dikehendaki), biaya yang kompetitif serta yang lebih penting lagi adalah tidak adanya DEVISA Nasional yang bocor ke Luar Negeri.

Kami harapkan pihat Depkominfo/Ditjen Postel/BTIP bersedia untuk mendukung kesimpulan kami tersebut diatas, sehngga para peserta Tender Internet Pedesaan Desa Pinter mendapat kepastian hukum untuk mengajukan proposal dengan menggunaan Perangkat Lunak Sumber Terbuka (Open Source).

Posted in Tender Internet Pedesaan dan Open Source | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Di Era Krisis Finansial, Open Source menjadi Pilihan Masyarakat Dunia

Posted by sroestam pada Oktober 15, 2008

Krisis Finansial yang dipicu awalnya dari macetnya Kredit Perumahan di Amerika Serikat diperkirakan akan berlangsung lama sampai dengan tahun 2010. Bailout Wall Street oleh Pemerintah Amerika Serikat sebesar US$700 milyar dan rencana injeksi dana ke Perbankan AS sebesar US$250 milyar kelihatannya sedikit mengerem laju jatuhnya harga-harga saham Wall Street dan Stock Exchange dunia.

Belajar dari situasi masa kini tentang pentingnya meningkatkan efisiensi biaya dan produktivitas usaha yang tinggi, maka masyarakat Pengusaha dan masyarakat umum mulai berfikir untuk mencari jalan keluar dari Krisis Finansial yang akan berdampak lama terhadap bisnis minimal 2 tahun kedepan. Pilihan itu jatuh pada perlunya menggunakan sarana produksi yang canggih namun birbiaya rendah, yaitu penggunaan Software-software Open Source.

Secara kebetulan, software-software Open Source saat ini sudah makin dikenal masyarakat berkat makin lancarnya jaringan Internet dan makin banyaknya masyarakat yang dapat mengakses jaringan Internet. Di Indonesia saat ini sudah ada 30 juta masyarakat yang dapat mengakses jaringan Internet, berkat banyaknya pelanggan Seluler yang dapat juga mengakses Internet, munculnya HotSpots WiFi yang berbayar maupun gratisan di berbagai kota besar di Indonesia. Adanya Internet berkecepatan tinggi memudahkan masyarakat men-Download software-software Open Source secara gratis. Disamping itu, makin banyak Distro-distro Lokal yang menyediakan software Open Source dengan biaya penggantian rekaman di CD/DVD yang sangat murah, tanpa ada pelanggaran HaKI, sebab software-software Open Source berlisensi GPL atau milik masyarakat.

Hal yang mendukung penggunaan software Open Source adalah adanya Standardisasi spesifikasi, seperti adanya Format Dokumen yang perlu untuk pertukaran Naskah-naskah, yaitu menggunakan open Document Format atau ODF yang telah menjadi Standar ISO (International Standards Organizaion). Adanya standar ISO ini memungkinkan interoperabilitas antar software-software, baik itu Open Source maupun Proprietary.

Support terhadap open Source saat ini juga semakin baik, terutama untuk software aplikasi bisnis, seperti OpenOffice.org untuk mendukung kerja perkantoran, Enterprise Resource Planning (WebERP, Compiere), Customer Relationship Management, Supply Chain Management, Corporate Performance Management, Work Flow, Business Process Flow, Balanced Scorecard, dan sebagainya.

Perusahaan Riset Gartner meramalkan bahwa pada tahun 2012 ada sejumlah 90% Perusahaan-perusahaan yang bermigrasi menggunakan software Open Source untuk keperluan bisnis mereka.

Di Brazil saat ini-pun sudah ada 70% Perusahaan-perusahaan yang bermigrasi ke Open Source karena dukungan penuh dari Pemerintah Brazil dibawah kepemimpinan Presiden Luiz Inacio da Silva. Keterlibatan langsung Pemipin Tertinggi Brazil inilah yang dapat memajukan Open Source di Brazil, yang perlu dicontoh oleh masyarakat negara-negara berkembang lainnya.

Peran Perusahaan, Organisasi Non-Profit, LSM dan Individu-individu yang berdedikasi tinggi untuk memajukan open Source juga sangat berpengaruh untuk keberhasilannya di tiap negara. kini saatnya kita perlu bergandengan tangan untuk memajukan Open Source dalam kerangka penghematan secara nasional dan sekaligus juga untuk meningkatkan produktivitas nasional, serta menghemat Devisa Nasional.

Semoga dapat membantu dalam menghadapi Krisis Finansial dan memajukan bangsa dan negara.

Posted in Di Era Krisis Finansial - Open Source jadi pilihan Masy, Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »